Bayangkan kamu tidak pernah membuat akun media sosial tertentu. Kamu tidak pernah mengunduh aplikasinya, tidak pernah menyetujui terms & conditions-nya, bahkan mungkin kamu sengaja menghindarinya demi privasi. Namun suatu hari, namamu muncul sebagai rekomendasi pertemanan. Atau lebih aneh lagi, kamu mulai menerima iklan yang terasa terlalu relevan dengan hidupmu. Pertanyaannya: bagaimana mungkin perusahaan tahu tentangmu jika kamu tidak pernah mendaftar?

Inilah yang dikenal sebagai shadow profile—profil bayangan. Dalam ekosistem digital modern, data tentang seseorang bisa dikumpulkan, disusun, dan dianalisis bahkan tanpa keterlibatan langsung orang tersebut.

Apa itu shadow profile?

Shadow profile adalah kumpulan data tentang individu yang dibangun oleh perusahaan teknologi tanpa individu tersebut secara eksplisit membuat akun atau memberikan data langsung. Data ini tidak selalu terlihat oleh pemiliknya dan sering kali tidak dapat diakses atau dikontrol oleh orang tersebut. Profil ini bisa berisi nama, nomor telepon, email, hubungan sosial, minat, hingga pola perilaku digital.

Siapa yang membuatnya?

Perusahaan teknologi besar, platform media sosial, pengiklan digital, hingga perusahaan data broker berperan dalam membangun ekosistem ini. Data broker adalah perusahaan yang secara khusus mengumpulkan, membeli, menggabungkan, dan menjual data konsumen dari berbagai sumber. Mereka tidak selalu berinteraksi langsung dengan individu, tetapi beroperasi di balik layar, memasok data ke perusahaan lain untuk kepentingan iklan, analisis pasar, atau penilaian risiko.

Kapan dan di mana data ini dikumpulkan?

Pengumpulan data terjadi setiap saat, di hampir setiap aktivitas digital. Saat temanmu mengunggah daftar kontaknya ke aplikasi, saat seseorang menandaimu dalam foto, saat kamu membuka email promosi yang mengandung tracking pixel, atau saat kamu mengunjungi situs web yang memiliki skrip pelacak dari pihak ketiga. Ruang pengumpulannya tidak hanya di satu aplikasi, tetapi lintas platform dan lintas perangkat.

Mengapa perusahaan melakukan ini?

Motivasi utamanya adalah ekonomi data. Dalam model bisnis digital modern, data adalah aset yang sangat bernilai. Semakin lengkap profil seseorang, semakin akurat penargetan iklan yang bisa dilakukan. Iklan yang tepat sasaran menghasilkan klik lebih tinggi, konversi lebih besar, dan pada akhirnya keuntungan lebih tinggi. Selain itu, data juga digunakan untuk analisis perilaku, pengembangan produk, hingga prediksi tren sosial.

Bagaimana shadow profile terbentuk?

Prosesnya sering kali tidak terlihat, tetapi mekanismenya cukup sistematis.

Pertama, melalui daftar kontak teman. Ketika seseorang menginstal aplikasi media sosial dan memberikan izin akses ke kontaknya, aplikasi tersebut dapat mengunggah seluruh daftar nomor telepon dan email ke server mereka. Jika namamu ada di kontak tersebut, sistem dapat menyimpan informasi itu meskipun kamu tidak punya akun. Dengan menggabungkan ribuan daftar kontak dari banyak orang, perusahaan bisa memetakan jaringan sosialmu.

Kedua, melalui metadata. Metadata bukan isi pesan, tetapi informasi tentang pesan itu: siapa menghubungi siapa, kapan, dari lokasi mana, menggunakan perangkat apa. Metadata sering dianggap “tidak sensitif,” padahal pola metadata dapat mengungkap hubungan sosial, kebiasaan, bahkan rutinitas harian seseorang. Bahkan tanpa membaca isi komunikasi, pola ini cukup untuk membangun gambaran perilaku.

Ketiga, melalui tracking pixel dan skrip pelacak. Tracking pixel adalah gambar transparan berukuran satu piksel yang tertanam di email atau situs web. Saat kamu membuka email atau halaman web, pixel tersebut mengirim sinyal ke server bahwa kamu telah membuka konten itu, termasuk informasi seperti alamat IP, jenis perangkat, dan waktu akses. Jika situs tersebut bekerja sama dengan jaringan iklan pihak ketiga, datamu bisa dicocokkan dengan profil yang sudah ada.

Keempat, melalui data broker pihak ketiga. Perusahaan dapat membeli data dari sumber lain misalnya data pembelian offline, pendaftaran kartu loyalitas, survei online, atau bahkan data publik. Data dari berbagai sumber ini kemudian digabungkan menggunakan teknik pencocokan identitas berbasis email, nomor telepon, atau pola perilaku. Hasilnya adalah profil yang semakin lengkap, meskipun kamu tidak pernah memberikan izin langsung.

Contoh nyata praktik ini pernah mencuat ketika terungkap bahwa platform besar dapat mengumpulkan informasi non-pengguna melalui unggahan kontak pengguna lain. Selain itu, industri data broker di berbagai negara diketahui memperjualbelikan data demografis, preferensi belanja, hingga estimasi pendapatan seseorang tanpa interaksi langsung dengan individu yang bersangkutan. Meskipun beberapa perusahaan telah meningkatkan transparansi, praktik pengumpulan data lintas sumber tetap menjadi bagian dari ekonomi digital.

Dampaknya terhadap privasi individu sangat signifikan. Pertama, hilangnya kontrol. Kamu tidak tahu data apa yang dikumpulkan tentangmu, apalagi bagaimana menghapusnya. Kedua, potensi diskriminasi algoritmik. Profil bayangan dapat memengaruhi jenis iklan, penawaran harga, atau bahkan keputusan kredit yang kamu terima. Ketiga, risiko keamanan. Semakin banyak data tersebar di berbagai pihak, semakin besar kemungkinan kebocoran data.

Ada juga dampak psikologis. Menyadari bahwa identitas digitalmu mungkin sudah ada sebelum kamu memilih untuk “hadir” di dunia online menimbulkan pertanyaan mendasar tentang otonomi dan persetujuan. Dalam sistem ini, pilihan untuk tidak ikut serta tidak selalu berarti bebas dari pengumpulan data.

Fenomena shadow profile menunjukkan bahwa privasi di era digital bukan hanya soal apa yang kita bagikan, tetapi juga tentang apa yang orang lain bagikan tentang kita, dan bagaimana sistem otomatis menghubungkan titik-titik informasi tersebut. Dunia digital tidak hanya mencatat tindakan kita, tetapi juga membangun bayangan diri kita versi data yang mungkin lebih rinci daripada yang kita sadari.

Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah data kita dikumpulkan, tetapi sejauh mana kita memahami prosesnya dan memiliki kendali atasnya. Shadow profile adalah pengingat bahwa dalam ekonomi berbasis data, bahkan ketidakhadiran pun bisa meninggalkan jejak.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *